Tampilkan postingan dengan label Horor Gak Cih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horor Gak Cih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2011

Kenangan PRJ 2009

PRJ atau Pekan Raya Jakarta adalah sebuah momen tahunan yang bisa dinikmati, terutama bagi kami yang merantau ini dan menemukan ini sebagai hiburan setelah penat belajar. Dan aku punya cerita yang tak kuceritakan pada mereka yang bersamaku saat itu.

“Put, temani Kak Ida pipis, Put.”

“Putri juga pengen pipis nih.”

“Ya udah bareng. Kita bilang dulu ama Mba Ririn dan Mba Nuy.”

Setelah menyampaikan maksudnya, kami sepakat untuk pergi bareng menuju toilet yang berada di dalam gedung. Antriannya, subhanallah, ramai banget. Dari toilet kami menuju Ramayana yang sedang obral besar-besaran, sampai 70% loh. Kak Ida yang hobi belanja sangat bersemangat untuk segera berburu barang baru. Nah, di sini cerita seru itu berkisah.

“Put, ke sebelah sana yuk.” Ajak Mba Nuy menunjuk lokasi tumpukkan sepatu yang berbeda dari tempat Kak Ida berburu.

“Yuk. Pengen beli juga satu.” Ujarku menyetujui ajakan itu.

Aku tak lagi memperhatikan dimana Kak Ida dan Mba Ririn berada karena juga asyik dengan pilihan-pilihan sepatu di hadapanku. Aku sesekali melirik dan bertanya pada Mba Nuy yang berdiri tak jauh dariku , yang juga asyik dengan pilihan-pilihannya.

Tiba-tiba Mba Nuy memegang sebuah sepatu kerja warna coklat yang sejak awal berdiri di tumpukan sepatu itu aku lirik. “Bagus, ya?” Tanyanya. Aku senyum menandakan setuju dengan penilaiannya. Belum sempat kucegah, Mba Nuy memasangkan sepatu kanan itu ke kakinya. Deg! Jantungku memacu kencang. Aku juga tak mampu beralasan untuk melarangnya, tapi ini sebuah kesalahan karena dia memakainya. Seperti yang sudah kuduga.

“Cantik gak, Put?”, kali ini aku tersenyum sedikit kecut karena ‘dia’ mendekat. “Senyum melulu. Jawab donk.”

“Maaf, Mba. Mba suka yang ini?” Tanya ‘dia’. Tak ada jawaban dari Mba Nuy.

Mba Nuy terang saja tidak menjawab pertanyaan itu karena Mba Nuy tidak dapat melihatnya. Aku pura-pura tidak mendengarkan dan dengan sedikit memaksa, “Mba Nuy, ke sana bentar deh.”

“Koq akunya ditarik-tarik. Bentar tak lepas dulu sepatunya.” Dengan logat Jawanya yang kental.

Begitu sepatu itu dia lepas, kusambar lagi tangannya, “Aku lihat sepatu yang di sana lebih bagus-bagus.”

“Wah, iya yo. Napa ndak dari tadi keliatan.”

Si ‘dia’ memanggil-manggil,” Mba, sepatu ini kan bagus. Diskonnya 70% lagi.” Tetap hanya aku yang bisa mendengarkan dengan gusar dan syukurnya ‘dia’ tidak mengikuti. Aku terus menjaga agar Mba Nuy atau Mba Ririn atau Kak Ida tidak mengarah ke tumpukkan itu apalagi menyentuh sepatu itu.


Memori Lantai 3 ( Part II )

Hampir semua gedung punya kisah, entah itu sejarah lucu atau menyedihkan bahkan tidak sedikit menyimpan kisah horor yang beberapa di antaranya diceritakan dari mulut-ke-mulut. Aku berbagi ini sebagai tulisan karena kisah ini berlanjut meski mungkin aku yang mampu menyampaikannya.

Aku memilih ke perpustakaan kampus hari Senin, Rabu, atau Jumat. Hari-hari itu perpustakaan melayani anggotanya hingga pukul 7 malam. Dan itu artinya aku bisa menikmati membaca atau menulis dengan posisi bersender di bantal yang disediakan sebagai tempat duduk di antara rak. Kadang kalo tubuh terasa pegal, aku berbaring cuek.

Letak perpustakaan di lantai 3. Apa kalian sudah membaca tulisanku tentang lantai 3? Hanya ada dua toilet di setiap lantai yang bisa dipakai bersama. Berbeda dengan lantai dasar dan lantai 2 yang memiliki fasilitas toilet di setiap ruang perkuliahannya. Dan itu artinya kalau magrib datang, antrian di toilet akan sangat panjang.

Hari itu aku ikut antrian bersama mereka yang baru saja istirahat untuk kelas ekstensinya. Dari depan pintu perpustakaan, tak ada antrian. Bergegas aku menuju toilet, namun apa daya, mereka bertiga lebih dulu sampai dan membentuk barisan. Kali ini aku mendapat posisi pengantri keempat, pikirku.

“Saya kira toiletnya kosong.” Ucapku pada mereka.

“Waktu saya buru kemari, ada yang duluan masuk, Mbak.” Jawab pengantri pertama.

“Oh.” Jawabku pendek.

Kami menikmati antrian itu, walau sungguh aku tak tahan ingin pipis. Ternyata pengantri pertama bukanlah teman sekelas pengantri dua dan tiga. Itu terdengar dari pertanyaan pengantri tiga tentang perkuliahan yang sedang diikuti oleh pengantri pertama.

Tidak terasa sudah lebih 5 menit mengantri dan aku semakin tidak sabar.

“Bu, kenapa dari tadi gak ada terdengar suara air ya?” Tanyaku.

“Iya.” Pengantri ketiga menyetuiui ucapanku.

“Coba ketuk pintunya, Bu.” Pinta pengantri kedua.

Pengantri pertama mencoba mengetuk dan memanggil, “Maaf, ada orang gak?”

Hening. Tak ada jawaban. Tak ada suara air. Tak terjadi apapun. Akhirnya pengantri pertama mencoba mendorong sedikit pintu toilet. Terbuka.

“Gak ada orang ternyata.” Ucapnya berlalu masuk.

“Memangnya Ibu-ibu tadi liat ada yang masuk?” Tanyaku.

“Aku gak tau.” Jawab pengantri ketiga.

“Ada. Aku liat tadi. Perempuan, masuknya buru-buru.” Jawab pengantri kedua.

Logikaku memanggil. “Maaf, Bu. Bukan ingin nakuti, tapi lebih baik kalo ngantri berdirinya di sini aja.” Jelasku sambil menunjukkan daerah teritorial yang aman menurutku.

Mana ada sih yang jadi berani setelah diberitahukan begitu. Terang aja mereka berdua jadi memutuskan untuk masuk ke toilet berdua. Akhirnya tinggallah diriku. Aku masuk ke toilet sendirian dengan gelapnya toilet karena lampunya putus. Syukurnya lampu dari ruangan kelas di sisi samping toilet cukup terang.

وَالْخَبَائِثِ الْخُبُثِ مِنَ بِكَ أَعُوْذُ إِنِّيْ اَللَّهُمَّ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan.”


Memori Lantai 3 ( Part I )

Hampir semua gedung punya kisah, entah itu sejarah lucu atau menyedihkan bahkan tidak sedikit menyimpan kisah horor yang beberapa di antaranya diceritakan dari mulut-ke-mulut. Aku berbagi ini sebagai tulisan karena kisah ini berlanjut meski mungkin aku yang mampu menyampaikannya.

Semester pendek yang panjang. Jadwal masuknya seminggu 3 hari, mulai pukul 8 pagi hingga berakhir di pukul 3 sore. Sehari hanya ada satu mata kuliah. Sedikit melelahkan dan tugas yang diberikan pun sangat menguras waktu, pikiran, dan tenaga.

Seperti beberapa hari yang sudah, hanya punya waktu singkat di siang hari untuk menikmati makan siang dan sholat Dhuhur. Masalah makan teratasi karena kesepakatan bersama, Bu Asih yang juga sektetaris kelas memiliki usaha masakan mampu memenuhi kebutuhan kami untuk menyediakan makan siang yang diantar langsung ke ruangan tempat kami melaksanakan perkuliahan. Seru juga karena sangatlah menyita waktu dan tenaga untuk naik-turun tangga untuk sekedar mengambil kiriman nasi dari lantai 3. Masalah tempat sholat kami atasi dengan membawa beberapa lembar koran untuk dijadilan alas agar sajadah dapat dibentang di sudut ruangan kelas. Nah, cuma masalah wudhu tetap harus mengantri.

Siang itu aku mengantri bertiga. Bu Asih sebagai pengantri kedua dan aku pengantri ketiga menikmati antrian dengan gaya masing-masing.Entah kebelet pipis, entah pengen bersender, Bu Asih berdiri tepat di lorong toilet. Sementara aku seperti biasa berdiri di pinggir tembok pembatas sambil menikmati pemandangan taman di tengah gedung dan melihat orang-orang yang berlalu lalang di lantai bawah. Aku tidak begitu memerhatikan Bu Asih, beliau pun tidak mengajakku ngobrol, jadi masing-masing aja.

Begitu pintu toilet terbuka, Bu Asih sedikit mundur memberikan jalan kepada Mba Ika. Lorong itu memang sedikit sempit bila harus berpas-pasan di sana. Saat itulah aku menyadari ada yang aneh pada Bu Asih.

Beberapa minggu kemudian.

“Teman-teman. Tolong perhatiannya.” Seperti biasa Pak Muhdir sebagai ketua kelas meminta perhatian kami yang asyik ngobrol. “Begini ya, saya dapat SMS dari Bu Asih. Beliau sakit jadi gak bisa masuk.”

“Sakit apa, Pak?” Ada yang nyeletuk, aku tidak ingat siapa. Seorang teman dari belakang tempat aku berada.

“Kabarnya sakit kepala dan panas. Saya juga tidak tau. Nanti saya tanya lagi.”

Beberapa hari berlalu.

Bu Asih belum sembuh dan setelah janjian aku, Pak Muhdir, dan Mba Ika (kalau gak salah, maaf aku lupa) sepakat ke rumah Bu Asih. Di sana Bu Asih menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan sakitnya. Ternyata itu bukan sakit yang membutuhkan bantuan dokter, tapi seorang ‘dokter’ yang lain.

Aku pikir itu adalah saatnya aku mengerti tentang apa yang pernah aku lihat di depat toilet tempo hari.

“Maaf, Bu Asih. Putri mau tanya, tapi Bu Asih gak perlu takut ya.” Bu Asih mengangguk menyetujui permintaanku. “Apa Bu Asih mempunyai ‘itu’ sebagai penjaga?” Lanjutku.

“Apa?” Bu Asih tidak mengerti maksud dari pertanyaanku.

“’Itu’?” Aku memberikan intonasi yang berbeda saat mengucapkannya kali ini.

“Maksud Putri, jin?” Tanya Pak Muhdir. Dan aku hanya mengangguk keras sebagai penegas bahwa yang diucapkan Pak Muhdirlah yang aku maksud.

“Itu dia masalahnya, Put. Kata guru ngajiku ada yang menggangguku. Aku gak pernah pake gitu-gituan.”

“Wah, berarti yang Putri lihat itu bukan punya Bu Asih donk.”

“Putri pernah lihat? Dimana? Kapan?” Tanya Bu Asih antusias.

Pak Muhdir dan Mba Ika semakin menyimak pembicaraan yang membuat sedikit suasana siang itu menjadi tegang.

“Ingat gak waktu semester pendek dan kita berdua lagi ngantri di toilet lantai 3?”

“Yang mana? Kan ada berapa kali tuh?” Tanya Bu Asih ingin memastikan.

“Ah, hanya sekali itu koq, kita bareng.”

“Gak ingat aku, Put. Udah ceritain aja apa yang kamu lihat.”

“Waktu Bu Asih akan masuk toilet aku lihat ada perempuan di punggung Bu Asih, sepertinya Bu Asih menggendong ‘dia’ gitu. Biasanya kalau posisinya begitu, artinya ‘dia’ itu peliharaan. Setauku sih, Bu.”

“Kenapa Putri gak bilang atau tanya gitu ke Bu Asih?” Sambut Mba Ika.

“Ngapain tanya. Kode etiknya kan kalau terlihat, ya sudahlah.” Jelasku.

“Ih, serem. Putri bisa lihat yang begituan ya.” Pak Muhdir mencoba mencairkan suasana yang malah membuat Bu Asih semakin membeku.

“Sekarang ‘dia’ masih ada gak, Put?” Tanya Bu Asih dengan mimik khawatir.

“Enggak.” Jawabku pendek.

“Aku harus gimana, Put?”

“Gak ngerti deh, Bu. Tanya aja ama guru ngajinya Bu Asih. Aku gak pernah berurusan dengan hal-hal begitu. Kalo ngeliat ya ngeliat aja.”

Untuk Bu Asih,

Putri tulis ini sebagai bahan berbagi agar pembaca tau bahwa hidup tidak selalu mulus dan ternyata iman kepada yang gaib itu benar; bukan untuk memujanya, tapi untuk menjaga diri dari kesesatan yang ditimbulkannya. Moga Allah melindungi kita, Amiin.