Minggu, 24 Juli 2011

Memori Lantai 3 ( Part II )

Hampir semua gedung punya kisah, entah itu sejarah lucu atau menyedihkan bahkan tidak sedikit menyimpan kisah horor yang beberapa di antaranya diceritakan dari mulut-ke-mulut. Aku berbagi ini sebagai tulisan karena kisah ini berlanjut meski mungkin aku yang mampu menyampaikannya.

Aku memilih ke perpustakaan kampus hari Senin, Rabu, atau Jumat. Hari-hari itu perpustakaan melayani anggotanya hingga pukul 7 malam. Dan itu artinya aku bisa menikmati membaca atau menulis dengan posisi bersender di bantal yang disediakan sebagai tempat duduk di antara rak. Kadang kalo tubuh terasa pegal, aku berbaring cuek.

Letak perpustakaan di lantai 3. Apa kalian sudah membaca tulisanku tentang lantai 3? Hanya ada dua toilet di setiap lantai yang bisa dipakai bersama. Berbeda dengan lantai dasar dan lantai 2 yang memiliki fasilitas toilet di setiap ruang perkuliahannya. Dan itu artinya kalau magrib datang, antrian di toilet akan sangat panjang.

Hari itu aku ikut antrian bersama mereka yang baru saja istirahat untuk kelas ekstensinya. Dari depan pintu perpustakaan, tak ada antrian. Bergegas aku menuju toilet, namun apa daya, mereka bertiga lebih dulu sampai dan membentuk barisan. Kali ini aku mendapat posisi pengantri keempat, pikirku.

“Saya kira toiletnya kosong.” Ucapku pada mereka.

“Waktu saya buru kemari, ada yang duluan masuk, Mbak.” Jawab pengantri pertama.

“Oh.” Jawabku pendek.

Kami menikmati antrian itu, walau sungguh aku tak tahan ingin pipis. Ternyata pengantri pertama bukanlah teman sekelas pengantri dua dan tiga. Itu terdengar dari pertanyaan pengantri tiga tentang perkuliahan yang sedang diikuti oleh pengantri pertama.

Tidak terasa sudah lebih 5 menit mengantri dan aku semakin tidak sabar.

“Bu, kenapa dari tadi gak ada terdengar suara air ya?” Tanyaku.

“Iya.” Pengantri ketiga menyetuiui ucapanku.

“Coba ketuk pintunya, Bu.” Pinta pengantri kedua.

Pengantri pertama mencoba mengetuk dan memanggil, “Maaf, ada orang gak?”

Hening. Tak ada jawaban. Tak ada suara air. Tak terjadi apapun. Akhirnya pengantri pertama mencoba mendorong sedikit pintu toilet. Terbuka.

“Gak ada orang ternyata.” Ucapnya berlalu masuk.

“Memangnya Ibu-ibu tadi liat ada yang masuk?” Tanyaku.

“Aku gak tau.” Jawab pengantri ketiga.

“Ada. Aku liat tadi. Perempuan, masuknya buru-buru.” Jawab pengantri kedua.

Logikaku memanggil. “Maaf, Bu. Bukan ingin nakuti, tapi lebih baik kalo ngantri berdirinya di sini aja.” Jelasku sambil menunjukkan daerah teritorial yang aman menurutku.

Mana ada sih yang jadi berani setelah diberitahukan begitu. Terang aja mereka berdua jadi memutuskan untuk masuk ke toilet berdua. Akhirnya tinggallah diriku. Aku masuk ke toilet sendirian dengan gelapnya toilet karena lampunya putus. Syukurnya lampu dari ruangan kelas di sisi samping toilet cukup terang.

وَالْخَبَائِثِ الْخُبُثِ مِنَ بِكَ أَعُوْذُ إِنِّيْ اَللَّهُمَّ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar