Minggu, 24 Juli 2011

Memori Lantai 3 ( Part I )

Hampir semua gedung punya kisah, entah itu sejarah lucu atau menyedihkan bahkan tidak sedikit menyimpan kisah horor yang beberapa di antaranya diceritakan dari mulut-ke-mulut. Aku berbagi ini sebagai tulisan karena kisah ini berlanjut meski mungkin aku yang mampu menyampaikannya.

Semester pendek yang panjang. Jadwal masuknya seminggu 3 hari, mulai pukul 8 pagi hingga berakhir di pukul 3 sore. Sehari hanya ada satu mata kuliah. Sedikit melelahkan dan tugas yang diberikan pun sangat menguras waktu, pikiran, dan tenaga.

Seperti beberapa hari yang sudah, hanya punya waktu singkat di siang hari untuk menikmati makan siang dan sholat Dhuhur. Masalah makan teratasi karena kesepakatan bersama, Bu Asih yang juga sektetaris kelas memiliki usaha masakan mampu memenuhi kebutuhan kami untuk menyediakan makan siang yang diantar langsung ke ruangan tempat kami melaksanakan perkuliahan. Seru juga karena sangatlah menyita waktu dan tenaga untuk naik-turun tangga untuk sekedar mengambil kiriman nasi dari lantai 3. Masalah tempat sholat kami atasi dengan membawa beberapa lembar koran untuk dijadilan alas agar sajadah dapat dibentang di sudut ruangan kelas. Nah, cuma masalah wudhu tetap harus mengantri.

Siang itu aku mengantri bertiga. Bu Asih sebagai pengantri kedua dan aku pengantri ketiga menikmati antrian dengan gaya masing-masing.Entah kebelet pipis, entah pengen bersender, Bu Asih berdiri tepat di lorong toilet. Sementara aku seperti biasa berdiri di pinggir tembok pembatas sambil menikmati pemandangan taman di tengah gedung dan melihat orang-orang yang berlalu lalang di lantai bawah. Aku tidak begitu memerhatikan Bu Asih, beliau pun tidak mengajakku ngobrol, jadi masing-masing aja.

Begitu pintu toilet terbuka, Bu Asih sedikit mundur memberikan jalan kepada Mba Ika. Lorong itu memang sedikit sempit bila harus berpas-pasan di sana. Saat itulah aku menyadari ada yang aneh pada Bu Asih.

Beberapa minggu kemudian.

“Teman-teman. Tolong perhatiannya.” Seperti biasa Pak Muhdir sebagai ketua kelas meminta perhatian kami yang asyik ngobrol. “Begini ya, saya dapat SMS dari Bu Asih. Beliau sakit jadi gak bisa masuk.”

“Sakit apa, Pak?” Ada yang nyeletuk, aku tidak ingat siapa. Seorang teman dari belakang tempat aku berada.

“Kabarnya sakit kepala dan panas. Saya juga tidak tau. Nanti saya tanya lagi.”

Beberapa hari berlalu.

Bu Asih belum sembuh dan setelah janjian aku, Pak Muhdir, dan Mba Ika (kalau gak salah, maaf aku lupa) sepakat ke rumah Bu Asih. Di sana Bu Asih menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan sakitnya. Ternyata itu bukan sakit yang membutuhkan bantuan dokter, tapi seorang ‘dokter’ yang lain.

Aku pikir itu adalah saatnya aku mengerti tentang apa yang pernah aku lihat di depat toilet tempo hari.

“Maaf, Bu Asih. Putri mau tanya, tapi Bu Asih gak perlu takut ya.” Bu Asih mengangguk menyetujui permintaanku. “Apa Bu Asih mempunyai ‘itu’ sebagai penjaga?” Lanjutku.

“Apa?” Bu Asih tidak mengerti maksud dari pertanyaanku.

“’Itu’?” Aku memberikan intonasi yang berbeda saat mengucapkannya kali ini.

“Maksud Putri, jin?” Tanya Pak Muhdir. Dan aku hanya mengangguk keras sebagai penegas bahwa yang diucapkan Pak Muhdirlah yang aku maksud.

“Itu dia masalahnya, Put. Kata guru ngajiku ada yang menggangguku. Aku gak pernah pake gitu-gituan.”

“Wah, berarti yang Putri lihat itu bukan punya Bu Asih donk.”

“Putri pernah lihat? Dimana? Kapan?” Tanya Bu Asih antusias.

Pak Muhdir dan Mba Ika semakin menyimak pembicaraan yang membuat sedikit suasana siang itu menjadi tegang.

“Ingat gak waktu semester pendek dan kita berdua lagi ngantri di toilet lantai 3?”

“Yang mana? Kan ada berapa kali tuh?” Tanya Bu Asih ingin memastikan.

“Ah, hanya sekali itu koq, kita bareng.”

“Gak ingat aku, Put. Udah ceritain aja apa yang kamu lihat.”

“Waktu Bu Asih akan masuk toilet aku lihat ada perempuan di punggung Bu Asih, sepertinya Bu Asih menggendong ‘dia’ gitu. Biasanya kalau posisinya begitu, artinya ‘dia’ itu peliharaan. Setauku sih, Bu.”

“Kenapa Putri gak bilang atau tanya gitu ke Bu Asih?” Sambut Mba Ika.

“Ngapain tanya. Kode etiknya kan kalau terlihat, ya sudahlah.” Jelasku.

“Ih, serem. Putri bisa lihat yang begituan ya.” Pak Muhdir mencoba mencairkan suasana yang malah membuat Bu Asih semakin membeku.

“Sekarang ‘dia’ masih ada gak, Put?” Tanya Bu Asih dengan mimik khawatir.

“Enggak.” Jawabku pendek.

“Aku harus gimana, Put?”

“Gak ngerti deh, Bu. Tanya aja ama guru ngajinya Bu Asih. Aku gak pernah berurusan dengan hal-hal begitu. Kalo ngeliat ya ngeliat aja.”

Untuk Bu Asih,

Putri tulis ini sebagai bahan berbagi agar pembaca tau bahwa hidup tidak selalu mulus dan ternyata iman kepada yang gaib itu benar; bukan untuk memujanya, tapi untuk menjaga diri dari kesesatan yang ditimbulkannya. Moga Allah melindungi kita, Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar