Rabu, 13 Juli 2011

IRMA

"Apa?!” aku benar-benar terkejut mendengar keputusan Irma untuk memakai jilbab.
“Apa nggak salah, Ir? Kamu kan jadi terkenal karena rambut kamu?”
“Nggak ada yang salah Put. Kamu baik deh udah ingatin aku tentang itu. Justru itu aku jadi yakin kalo pilihan aku ini benar-benar, BENAR! Thanks ya”

Aku masih bingung sama jawaban yang telah diucapkan Irma, tapi aku memutuskan untuk tidak menanyakan tentang hal itu lagi untuk sementara waktu. Aku yakin itu cuma salah satu caranya untuk mencari sensasi. Yah… seperti biasa.

Irma adalah sobatku yang paling unik. Dia paling banyak ide dan ide-ide itu bisa menjadi sesuatu yang sensasional. Contohnya dua tahun lalu, tiba-tiba dia memotong rambut panjangnya hingga nyaris gundul. Kami sekelas pada bengong alias ternganga waktu tiba-tiba dia nongol di depan kelas sambil teriak “Hai guys! Gimana penampilan aku sekarang?! Unik kan?”. Dasar Irma, tanpa komentar dari siapapun dia tetap menganggap bahwa dari sikap teman-teman yang diam dan terbengong-bengong itu adalah pujian baginya.

Sebenarnya aku kurang senang sama tingkah Irma yang terkadang nggak mikirin orang ngomong apa ke dia. Kupingku sering panas juga dengerin gosip-gosip yang beredar tentang dia. Emang sih dia beken dan dikenal oleh banyak orang di sekolah dan di lingkungannya karena dia pintar dan karena rambutnya yang udah lolos jadi bintang salah satu merk sampo yang terkenal. Tapi aneh juga ya, kenapa dia udah terkenal tapi tetap aja nggak mikirin dan ngerubah sikapnya.

Minggu lalu aku duduk di warung Bakso Bang Dim, tanpa sengaja aku ngederin dua cewek lagi ngegosipin Irma. Kabarnya sih Irma kena penyakit kotor. Soalnya belakangan ini sering banget ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Terus besoknya aku tanyain ke Irma, jawabannya simpel banget, “Aku iseng aja nanya-nanyain orang yang berobat ke sana”. Itulah Irma, teman yang sangat aku sayangi dan dia orang penuh sensasi.

Hari ini seperti biasa, aku menantikan kehadiran Irma di sampingku. Kami sudah berjanji mau ke rumah Dewi, bareng. Memang sudah tiga hari ini kami ikutan kursus memasak sama mamanya Dewi yang kateringnya terkenal itu. Ini sih idenya Irma karena dia ingin bisa buat kue tar dan membuat makanan kecil supaya bisa dijual di kantin sekolah. Usaha kecil, istilahnya. Rasanya aku sudah menunggunya lebih dari sejam, tapi ada papa nih? Nggak biasanya dia terlambat dan nggak memberikan kabar apapun.

Tidak terasa 15 menit juga sudah ikut berlalu dan artinya aku sudah nunggu dia hampir satu setengah jam. Wah, wah, wah, ada apa ya? Aku kok jadi semakin gelisah. Aku takut terjadi Sesuatu yang nggak baik padanya. Ayolah Irma, kamu dimana? Batinku. Emang dasar cuek, dia nongol tanpa bersalah dan langsung nyerahin sebuah kotak ke tanganku. Aku yang masih heran campur bingung, bengong aja menerima kedatangannya dengan kotak itu.

“Napa?”, Irma bertanya.
“Ma, apa kamu nggak tau kalo aku tuh dari tadi dah nungguin kamu?”
“Ya tau lah.”
“Trus?”
“Terus?”, dia malah mengulang pertanyaanku.
“Kamu gimana sih? Kamu kan nggak pernah gini?”
“Gini gimana?”
“Ya telat lah.”
“Siapa bilang? Ni nyatanya aku telat.”

Masih dengan tampang yang super biasa, dia langsung menarikku masuk ke rumah Dewi.

“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam”, jawab mamanya Dewi. “Loh, kok kamu baru datang Ir? Kasian Putri tuh udah nunggu kamu dari tadi.”
“Salahnya dia, Tante. Kenapa juga dia khawatir tapi nggak nanyak.”
Apa??? Keterlaluan anak ini. Aku yang udah nggak tahan jadi benar-benar ingin menjitak kepalanya.
“Sembarangan kamu,” selaku, “emangnya pernah apa kamu bertingkah kek gini? Aku takut juga nelpon rumahmu, entar mamamu jadi khawatir karena ternyata anaknya nggak nyampe tujuan. Padahal si ratu nyentrik ini lagi keluyuran.”
“Enak aja. Aku sengaja datang terlambat. Akukan lagi nyobain resep kemarin. Sebagai kejutan aku datang ngaret so kita hari ini nggak perlu praktek masak tapi cobain kue buatanku aja.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar