Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

KEPERGIAN

Dinikmatinya kebersamaan yang tidak lama lagi itu. Bukan vonis, bukan pula ramalan. Firasat itu semakin kuat bahwa kebersamaannya dengan istri tercinta tinggal beberapa hari saja dan sekarang waktu itu semakin sempit.

“Sayang, aku akan terus di sini menemanimu. Berjuanglah terus.”

Dia masih terus menyemangati tubuh kaku di hadapannya itu dengan bisikan harapan dan semangat. Seperti kemarin, tubuh itu tidak lagi merespon. Besar keyakinannya bahwa meski tak merespon, istrinya itu masih dapat mendengar.


Lalu kembali terngiang dalam benaknya, sebulan yang lalu, ucapan dokter yang menangani kesehatan istrinya. Betapa berat tanggungan perasaannya yang harus menerima keputusan dokter yang akhirnya memintanya untuk ikhlas bila sewaktu-waktu maut menjemput tubuh ringkih istrinya. Teriakan nyaring tanda tak rela menggema di ruang konsultasi, merembet jelas ke luar ruangan dan membuat orang-orang yang berada di sekitarnya terkejut sekaligus miris terhanyut pilu.


“Tuhanku Yang Mahaagung dan Bijaksana. Ikhlaskan hatiku menerima setiap keputusan yang telah Kau takdirkan pada kami yang lemah dan hina ini. Berikan kemudahan baginya untuk kembali kepada-Mu. Aku mohon, jangan jadikan kecintaanku adalah penghalang baginya untuk taat pada-Mu. Tuhan, bantulah kami ini.”

Bukan doa biasa. Bukan doa yang meminta kepulihan seperti yang sudah-sudah diucapkannya. Doa kali ini adalah permohonan untuk mengikhlaskan dirinya melepas kepergian orang yang selama ini menjadi bagian dari dirinya. Dialah sahabat terbaik yang dipertemukan Tuhan untuk mengisi hidupnya, curahan hati kala senang dan susah. Dialah istri tercinta.


Bulan semakin pucat seiring semakin terangnya sinar matahari.

“Sayang, lihatlah matahari pagi ini. Cahaya terang sekali. Hangat. Bangunlah.”

Hanya ada ucapan pendek-pendek dari mulutnya. Bibir kelu menahan isak. Ingin didengarkannya lagi suara itu, suara yang membangunkannya di pagi hari dengan bermacam bujukan, kadang celoteh atau omelan ringan karena ulahnya yang menunda-nunda bangun subuh.


“Ayah, tumben bangun pagi sekali hari ini?”

“Aku kangen kamu, Bundaku.” Ditariknya itrinya itu dalam pelukan. Kecupan penuh cinta mendarat bertubi-tubi di kening dan pipi yang membuat si istri tertawa lembut menikmati ulah suaminya itu.

“Ayah, aku bahagia sekali dicintai Ayah di kehidupanku.”

“Aku juga, Sayang.”

“Ayah, tolong jangan menyelaku dulu, please.”

Senyuman dan anggukan serta pelukan yang semakin erat menandakan kesepakantan. Dia diam mendengarkan baik-baik.

“Ayah, kita sadari selalu bahwa Tuhan saja yang memiliki waktu. Tak ada makhluk yang bisa memperlambat, mempercepat apalagi menghentikan waktu. Setiap dari kita punya kesempatan yang sama untuk mempergunakan waktu yang diberikanNya, hanya saja ada yang panjang dan ada yang singkat. Kita sudah bicarakan banyak hal dan menyepakati banyak hal pula. Jadi, aku cuma bisa minta maaf atas kekurangan dan kesalahanku atas ketidaksempurnaanku menjadi istrimu. Insya Allah, kelak di syurgaNya, kita dipertemukanNya kembali.”

Kata-kata pamit yang pahit. Sukmanya terluka. Air mata mengalir membentukan anak sungai hingga membasahi bantal. Dia diam bukan tak punya kata-kata, masih ingin terus dia mendengarkan suara-suara itu hingga tak ada waktu bagi maut untuk merenggut istrinya itu darinya.

“Maaf, Pak. Tolong ikut saya ke ruang perawatan.”

“Astaghfirullah. Ternyata aku duduk tertidur setelah sholat subuh.”

“Mari, Pak. Cepat.”

Perawat itu memaksanya. Tergopoh dia bangkit dari senderan dinding mushola rumah sakit.

Dari depan pintu yang terbuka, dilihatnya dada istrinya turun naik dengan cepat, berebut berusaha menghirup dan melepaskan udara yang keluar-masuk. Matanya terbuka, tapi sayu.

“Sayang, kamu sudah bangun.”

Songsongan kebahagiaan. Rengkuhan penuh syukur. Kecupan dengan air mata menghiasi suasana haru itu.

“Ayah, terima kasih untuk semuanya. Maafkan aku karena harus pergi. Aku mencintaimu, Ayah. Jagalah dirimu baik-baik setelah aku pergi nanti. Sampai ketemu di syurga nanti. Assalamu’alaikum, Cintaku.”

Dan mesin itu menjerit panjang. Matanya sendu itu tertutup perlahan seiring hembusan napasnya yang terakhir. Tak diberiya dia kesempatan untuk membalas ucapan selamat tinggal itu.

Tuhan, dia sudah pergi. Dia kembali kepadaMu. Tempatkanlah dia bersama dengan orang-orang yang Kau cintai. Pertemukanlah kami lagi kelak, Tuhan. Tolong sampaikan rasa sayangku ini kepadanya. Bantu aku untuk ikhlas melepasnya.

Doa lara yang sungguh entah seperti apa obat yang bisa menolongnya pulih dan kapan waktu itu datang untuk bisa dinikmatinya lagi indahnya hidup di dunia. Jiwa yang merana dan hancur. Lara nestapa memayungi dengan untaian doa pengharapan agar Tuhan senantiasa membantunya untuk ikhlas.

Makassar, 28 Juni 2011/ Pukul 5:22 pagi

Selamat Jalan Kekasih

Memang peristiwa 26 Desember tidak hanya aku saja yang kehilangan orang yang tercinta, tapi sungguh peristiwa itu begitu menghantui di setiap malamku. Aku merasa bersalah kepadamu. Aku tak datang tepat waktu sesuai perjanjian kita. Yah… ini sudah takdir. Aku harap kau mau memaafkan aku.

Hari ini, terkenang lagi saat terakhir kau menatapku. Tepat saat kau mengucapkan kata perpisahan yang tak pernah terucapkan lewat kata-kata di bibirmu. Sayang, matamu, begitu aku mengerti arti yang terpancarkan olehnya. Mata itu pasti akan selalu terkenang.

“Ya Allah…. Apa ini?! Gempa!!! Kuat sekali! Kenapa lama?”. Aku benar-benar terkejut. Rasanya ini aneh dan menakutkan. Kata orang tua kalau ada gempa besar pasti ada sesuatu yang lebih besar akan terjadi. Tapi apa? Ah… aku takut membayangkan yang akan terjadi. Moga saja tidak terjadi apa-apa. Lagi pula aku sedang menuju ke rumah Rahmi, kekasihku. Apa dia baik-baik saja ya?

Segera setelah gempa aku meneruskan perjalanan, tapi jarak rumahku dengan rumah Rahmi bisa dikatakan tidak dekat. Aku tinggal di Montasik sementara Rahmi di Kampung Jawa. Jadi, ya udah pasti, paling kurang aku menghabiskan waktu diperjalanan setengah jam, kalo ngebut!

Sampai di Simpang Surabaya aku melihat ada begitu banyak orang berlari dan mereka terlihat begitu panik. Aku bingung dan bertanya pada seorang ibu yang terlihat begitu tertekan.

“Bu, ada apa?”

“Ibu nggak tahu. Tapi, katanya air laut naik. Orang banyak yang hanyut. Anak ibu aja belum ketemu,” jawab Ibu itu panjang lebar.

Masya Allah! Apa yang terjadi sesungguhnya. “ Makasih, Bu”.

Aku terus mencoba melanjutkan perjalanan, tapi ternyata keadaan jauh lebih kacau dari yang aku bayangkan. Orang-orang menangis, histeris, berlarian, ada yang terluka ada yang hanyut. Yang mengerikan, mayat ada di mana-mana, bergelimpangan bagai sampah. Astaghfirullah!

Tiba-tiba terbayang olehku, Rahmi. Bagaimana dengan dia? Ya.. Allah tolong jaga dia, doaku dalam hati. Aku mulai benar-benar panik dan terus berusaha untuk sampai ke tujuan. Tapi sayang, aku terjebak dan terpaksa meninggalkan motorku pada seorang teman yang tinggal di Kampung Ateuk, walau ternyata dia juga sudah meninggalkan rumah yang tak terkunci. Langsung saja kutinggalkan motorku di halaman rumahnya dan bergegas pergi mencari Rahmiku. Aku berjalan kaki. Tapi daerah Mesjid Raya pun begitu kacau. Aku pesimis kalau Kampung Jawa baik-baik saja.

Dengan susah payah aku tetap meneruskan perjalanan dengan sepenuh doa kupanjatkan agar Rahmi selamat dan aku pun berhasil menemukannya. Aku benar-benar berharap. Tanpa sengaja aku melihat seorang perempuan yang hampir telanjang di dekat terminal labi-labi Keudah. Dia tertindih dua mayat. Aku dekati. Yaa Allah!!! Dia, Rahmiku. Aku geser mayat yang menindihnya dan aku tarik dia ke dalam pangkuanku. Aku menangis tergugu. Dia benar-benar dalam keadaan yang tak tertolong lagi. Matanya merah, tangan kanannya patah sedang yang kiri, hilang. Di dadanya yang nyaris telanjang itu, tertancap kayu. Darah terus mengalir. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku hanya bisa menangis dan menatapnya penuh duka. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami. Kami merasa mata kami mampu untuk saling berucap dan mengerti dari setiap maknanya. Hingga akhirnya Rahmi menghembuskan napas terakhir. Moga Syahid.

Rahmi, usai sudah kebersamaan kita. Moga kamu berada di tempat terbaik di sisi-Nya. Aku akan selalu mengenang kebahagian kita yang walau masih seumur jagung. Dan semoga aku kuat untuk terus melanjutkan perjalan hidupku.

IRMA

"Apa?!” aku benar-benar terkejut mendengar keputusan Irma untuk memakai jilbab.
“Apa nggak salah, Ir? Kamu kan jadi terkenal karena rambut kamu?”
“Nggak ada yang salah Put. Kamu baik deh udah ingatin aku tentang itu. Justru itu aku jadi yakin kalo pilihan aku ini benar-benar, BENAR! Thanks ya”

Aku masih bingung sama jawaban yang telah diucapkan Irma, tapi aku memutuskan untuk tidak menanyakan tentang hal itu lagi untuk sementara waktu. Aku yakin itu cuma salah satu caranya untuk mencari sensasi. Yah… seperti biasa.

Irma adalah sobatku yang paling unik. Dia paling banyak ide dan ide-ide itu bisa menjadi sesuatu yang sensasional. Contohnya dua tahun lalu, tiba-tiba dia memotong rambut panjangnya hingga nyaris gundul. Kami sekelas pada bengong alias ternganga waktu tiba-tiba dia nongol di depan kelas sambil teriak “Hai guys! Gimana penampilan aku sekarang?! Unik kan?”. Dasar Irma, tanpa komentar dari siapapun dia tetap menganggap bahwa dari sikap teman-teman yang diam dan terbengong-bengong itu adalah pujian baginya.

Sebenarnya aku kurang senang sama tingkah Irma yang terkadang nggak mikirin orang ngomong apa ke dia. Kupingku sering panas juga dengerin gosip-gosip yang beredar tentang dia. Emang sih dia beken dan dikenal oleh banyak orang di sekolah dan di lingkungannya karena dia pintar dan karena rambutnya yang udah lolos jadi bintang salah satu merk sampo yang terkenal. Tapi aneh juga ya, kenapa dia udah terkenal tapi tetap aja nggak mikirin dan ngerubah sikapnya.

Minggu lalu aku duduk di warung Bakso Bang Dim, tanpa sengaja aku ngederin dua cewek lagi ngegosipin Irma. Kabarnya sih Irma kena penyakit kotor. Soalnya belakangan ini sering banget ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Terus besoknya aku tanyain ke Irma, jawabannya simpel banget, “Aku iseng aja nanya-nanyain orang yang berobat ke sana”. Itulah Irma, teman yang sangat aku sayangi dan dia orang penuh sensasi.

Hari ini seperti biasa, aku menantikan kehadiran Irma di sampingku. Kami sudah berjanji mau ke rumah Dewi, bareng. Memang sudah tiga hari ini kami ikutan kursus memasak sama mamanya Dewi yang kateringnya terkenal itu. Ini sih idenya Irma karena dia ingin bisa buat kue tar dan membuat makanan kecil supaya bisa dijual di kantin sekolah. Usaha kecil, istilahnya. Rasanya aku sudah menunggunya lebih dari sejam, tapi ada papa nih? Nggak biasanya dia terlambat dan nggak memberikan kabar apapun.

Tidak terasa 15 menit juga sudah ikut berlalu dan artinya aku sudah nunggu dia hampir satu setengah jam. Wah, wah, wah, ada apa ya? Aku kok jadi semakin gelisah. Aku takut terjadi Sesuatu yang nggak baik padanya. Ayolah Irma, kamu dimana? Batinku. Emang dasar cuek, dia nongol tanpa bersalah dan langsung nyerahin sebuah kotak ke tanganku. Aku yang masih heran campur bingung, bengong aja menerima kedatangannya dengan kotak itu.

“Napa?”, Irma bertanya.
“Ma, apa kamu nggak tau kalo aku tuh dari tadi dah nungguin kamu?”
“Ya tau lah.”
“Trus?”
“Terus?”, dia malah mengulang pertanyaanku.
“Kamu gimana sih? Kamu kan nggak pernah gini?”
“Gini gimana?”
“Ya telat lah.”
“Siapa bilang? Ni nyatanya aku telat.”

Masih dengan tampang yang super biasa, dia langsung menarikku masuk ke rumah Dewi.

“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam”, jawab mamanya Dewi. “Loh, kok kamu baru datang Ir? Kasian Putri tuh udah nunggu kamu dari tadi.”
“Salahnya dia, Tante. Kenapa juga dia khawatir tapi nggak nanyak.”
Apa??? Keterlaluan anak ini. Aku yang udah nggak tahan jadi benar-benar ingin menjitak kepalanya.
“Sembarangan kamu,” selaku, “emangnya pernah apa kamu bertingkah kek gini? Aku takut juga nelpon rumahmu, entar mamamu jadi khawatir karena ternyata anaknya nggak nyampe tujuan. Padahal si ratu nyentrik ini lagi keluyuran.”
“Enak aja. Aku sengaja datang terlambat. Akukan lagi nyobain resep kemarin. Sebagai kejutan aku datang ngaret so kita hari ini nggak perlu praktek masak tapi cobain kue buatanku aja.”