Rabu, 13 Juli 2011

Selamat Jalan Kekasih

Memang peristiwa 26 Desember tidak hanya aku saja yang kehilangan orang yang tercinta, tapi sungguh peristiwa itu begitu menghantui di setiap malamku. Aku merasa bersalah kepadamu. Aku tak datang tepat waktu sesuai perjanjian kita. Yah… ini sudah takdir. Aku harap kau mau memaafkan aku.

Hari ini, terkenang lagi saat terakhir kau menatapku. Tepat saat kau mengucapkan kata perpisahan yang tak pernah terucapkan lewat kata-kata di bibirmu. Sayang, matamu, begitu aku mengerti arti yang terpancarkan olehnya. Mata itu pasti akan selalu terkenang.

“Ya Allah…. Apa ini?! Gempa!!! Kuat sekali! Kenapa lama?”. Aku benar-benar terkejut. Rasanya ini aneh dan menakutkan. Kata orang tua kalau ada gempa besar pasti ada sesuatu yang lebih besar akan terjadi. Tapi apa? Ah… aku takut membayangkan yang akan terjadi. Moga saja tidak terjadi apa-apa. Lagi pula aku sedang menuju ke rumah Rahmi, kekasihku. Apa dia baik-baik saja ya?

Segera setelah gempa aku meneruskan perjalanan, tapi jarak rumahku dengan rumah Rahmi bisa dikatakan tidak dekat. Aku tinggal di Montasik sementara Rahmi di Kampung Jawa. Jadi, ya udah pasti, paling kurang aku menghabiskan waktu diperjalanan setengah jam, kalo ngebut!

Sampai di Simpang Surabaya aku melihat ada begitu banyak orang berlari dan mereka terlihat begitu panik. Aku bingung dan bertanya pada seorang ibu yang terlihat begitu tertekan.

“Bu, ada apa?”

“Ibu nggak tahu. Tapi, katanya air laut naik. Orang banyak yang hanyut. Anak ibu aja belum ketemu,” jawab Ibu itu panjang lebar.

Masya Allah! Apa yang terjadi sesungguhnya. “ Makasih, Bu”.

Aku terus mencoba melanjutkan perjalanan, tapi ternyata keadaan jauh lebih kacau dari yang aku bayangkan. Orang-orang menangis, histeris, berlarian, ada yang terluka ada yang hanyut. Yang mengerikan, mayat ada di mana-mana, bergelimpangan bagai sampah. Astaghfirullah!

Tiba-tiba terbayang olehku, Rahmi. Bagaimana dengan dia? Ya.. Allah tolong jaga dia, doaku dalam hati. Aku mulai benar-benar panik dan terus berusaha untuk sampai ke tujuan. Tapi sayang, aku terjebak dan terpaksa meninggalkan motorku pada seorang teman yang tinggal di Kampung Ateuk, walau ternyata dia juga sudah meninggalkan rumah yang tak terkunci. Langsung saja kutinggalkan motorku di halaman rumahnya dan bergegas pergi mencari Rahmiku. Aku berjalan kaki. Tapi daerah Mesjid Raya pun begitu kacau. Aku pesimis kalau Kampung Jawa baik-baik saja.

Dengan susah payah aku tetap meneruskan perjalanan dengan sepenuh doa kupanjatkan agar Rahmi selamat dan aku pun berhasil menemukannya. Aku benar-benar berharap. Tanpa sengaja aku melihat seorang perempuan yang hampir telanjang di dekat terminal labi-labi Keudah. Dia tertindih dua mayat. Aku dekati. Yaa Allah!!! Dia, Rahmiku. Aku geser mayat yang menindihnya dan aku tarik dia ke dalam pangkuanku. Aku menangis tergugu. Dia benar-benar dalam keadaan yang tak tertolong lagi. Matanya merah, tangan kanannya patah sedang yang kiri, hilang. Di dadanya yang nyaris telanjang itu, tertancap kayu. Darah terus mengalir. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku hanya bisa menangis dan menatapnya penuh duka. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami. Kami merasa mata kami mampu untuk saling berucap dan mengerti dari setiap maknanya. Hingga akhirnya Rahmi menghembuskan napas terakhir. Moga Syahid.

Rahmi, usai sudah kebersamaan kita. Moga kamu berada di tempat terbaik di sisi-Nya. Aku akan selalu mengenang kebahagian kita yang walau masih seumur jagung. Dan semoga aku kuat untuk terus melanjutkan perjalan hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar